The Writer's Curse




I was a little surprised when a prolific Indonesian writer, Tere Liye, announced a few weeks ago that he had requested the country’s two major publishing houses, Gramedia Pustaka Utama and Republika, to stop reprinting his novels to protest the high taxes he has to pay. This protest is basically owing to a higher tax imposed by the Indonesian government to authors compared to other professionals.

Despite the controversy surrounding his decision to cut ties with the publishers, Tere’s concern should not be simply seen as opposing the tax treatment injustice for authors and the ignorance of the current administration about the subject.

Deep in the writing jungle, his protest justifies what I consider “the curse” that most writers must accept, like it or not. It is called a “curse” not because of the black magic an author has, but rather because it is a necessity that befriends many novelists, columnists or poets, leaving them no choice but to face it.

An author is cursed to be solitary. An author lives a solitary life because of his or her need for strong privacy and individualism. It is not to say that good writers must go to a solitary place where the environment is quiet, or that they need to distance themselves from society. Absolutely not. Becoming solitary signifies the author’s dire need for personal space and time when it comes to writing. Ernest Hemingway once said, “Writing, at its best, is a lonely life.”

Since writing is an independent act, intense alone time is a matter of routine for many authors. Things get complicated as long hours of writing alone are not compatible with better public recognition and appreciation. That is why many authors often find themselves frustrated in the face of poor immediate results in the form of financial gain. Tere’s choice to halt reprinting of his books to protest high tax is another face of an author’s vexation with poor public recognition, which is the government.

It is often time for an author to withdraw him or herself into a solitary way of making creativity. Anne Rice once said that she brings a small recorder with her in case an idea for a book or character enters her mind at a time she is not near a keyboard.

Before the invention of the PC, Margaret Mitchell wrote her creative sparks for the epic Gone With The Wind  characters and settings on scraps of paper and even napkins. AA Navis, a noted author from West Sumatra, always took a piece of paper everywhere, even to the toilet, in order to pursue expensive ideas.

Writing is also cursed to be the highest intellectual activity, which means you need to have a survival mode and strong energy to be a committed author. Compared to other intellectual activities — reading and discussion — writing is the most difficult one.

Reading makes us understand, discussion gets our understanding deeper and writing sharpens what we discuss. Those who read a lot but do not write are like a warehouse, keeping valuable things that are not used by others. On the contrary, writing after intense reading and active discussion is pretty much the same as a manufacturer, producing things beneficial to society, which is the reader.

Representing the hardest intellectual activity, writing is not a piece of cake. This is particularly true as good writing will greatly contribute to improving the country’s literacy. In March 2016, a study conducted by Central Connecticut State University (CCSU) entitled “World’s Most Literate Nations” placed Indonesia as the 60th most literate nation out of 61 nations on the list, above only Botswana, and below fellow ASEAN member Thailand.

If writing was easy, this nation’s literacy rate may not be as low as the survey suggested. If it was easy, Facebook pages would be filled with light but interesting and quality writing, not bad words. Writing an op-ed article, for instance, helps a writer to reach millions of people, sway hearts, change minds and perhaps even remold public policy. In the process, the author may also acquire recognition for him/herself and his/her institution.

Low literacy, to a serious degree, has a detrimental effect on writing books. In Indonesia, writing textbooks is not a profit-making business. Publishers and bookstores earn a lot of money, while authors rarely break even.

It is not surprising that many potential authors are reluctant to write and tend to pin the blame on publishers for taking an unfair percentage of the book sales. On the contrary, publishers tend to blame the poor reading culture of the society which, in turn, bodes ill for the marketing of books.
On the one side, Tere’s case has something to do with justice and royalty for the author. However, on the other side, this is the tip of the iceberg that represents the weak intellectual tradition for most of our society.

(Diterbitkan di harian The Jakarta Post, 9 Oktober 2017)

Tere Liye dan "Kutukan" sebagai Penulis



Penulis prolifik, Tere Liye, memutuskan untuk berhenti mencetak ulang novel-novelnya sebagai wujud protes atas tingginya pajak yang harus ia bayar. Ia juga mengeluhkan bahwa pengaduannya kepada Direktorat Jenderal Pajak dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) tak ubahnya pesan yang masuk ke telingan yang tuli. Dalam akun Facebooknya, Tere sampai-sampai menegaskan bahwa masyarakat harus bersikap sopan kepada para penulis karena mereka membayar pajak tertinggi.

Tere mengklaim bahwa pajak yang dibayarnya jauh lebih tinggi daripada apa yang dibayar oleh pebisnis dan kaum profesional lainnya. Seorang penulis yang mendapatkan royalti sampai dengan Rp 1 miliar, misalnya, harus membayar pajak penghasilan sebesar Rp 245 juta. Karenanya, Tere telah meminta dua penerbit—Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan Republika Penerbit—untuk tidak mencetak ulang karya-karya fiksinya sejumlah 28 judul.

Terlepas dari kontroversi seputar keputusannya untuk memutuskan hubungan dengan pihak penerbit, keprihatinan Tere seharusnya tidak saja dipandang sebagai protesnya atas ketidakadilan perlakuan pajak bagi penulis dan ketidakpedulian pemerintah mengenai masalah ini. Tak kalah pentingnya, persoalan ini menjustifikasi apa yang dinamakan sebagai 'kutukan' yang mau tak mau harus diterima oleh banyak penulis. Disebut 'kutukan' bukan karena ilmu hitam yang dimiliki pengarang, melainkan semacam pakaian keniscayaan yang harus dikenakan bila seseorang telah menjatuhkan pilihan takdirnya sebagai novelis, kolumnis, penyair atau penulis buku pelbagai genre lainnya. Hemat saya, setidaknya ada dua kutukan yang menemani jalan hidup seorang penulis, yakni kesepian dan intelektualitas.

Menulis adalah bekerja di tengah kesunyian karena membutuhkan konsentrasi, ketenangan dan komitmen. Menyendiri untuk menulis novel atau cerita pendek membutuhkan waktu yang intens. Ia menjadi penting untuk menulis. Tidak jarang seorang pengarang melewati bahkan ketinggalan momen hanya untuk sekadar menikmati hari-hari yang hangat dan cantik karena larut di kamar ketika menulis.

Karena tidak adanya jaminan bahwa tulisan yang dihasilkan menunjukkan hasil langsung dalam bentuk keuntungan finansial, seringkali seorang penulis merasakan apa yang dikerjakannya tidak produktif. Menulis sering kali menjadi ‘bisnis frustasi’ yang menggabungkan waktu kesendirian berjam-jam dan minimnya pengakuan instan. Karenanya, menulis dirasakan tidak produktif. Namun dalam lubuk hati terdalam, seorang penulis merasakan betul bahwa menulis bukanlah aktivitas yang tidak produktif. Keuntungan, meski tidak selalu berbentuk uang, mewujud sebagai insentif yang personal. Di saat seorang menulis apapun, dan begitu ia menyelesaikan sebuah cerita, stasi ini adalah momen sukacita, sebuah endorfin tinggi!

Upaya-upaya kreatif yang diperbuat oleh penulis dalam berkarya lagi-lagi tidak jauh dari kesendirian lantaran tidak lazimnya di tengah-tengah masyarakat. Anne Rice penyatakan ia selalu membawa perekam kecil kemana-mana untuk menangkap ide-ide tertentu yang masuk ke kepalanya saat ia tidak berada di dekat keyboard. Sebelum penemuan PC, Margaret Mitchell menulis di atas potongan kertas dan bahkan serbet kerika mengerjakan magnum opusnya, Gone With the Wind. A.A. Navis, seorang sastrawan besar dari ranah Minang, disebut-sebut kerap membawa kertas di sakunya, bahkan sampai ke toilet, guna mendapatkan ide yang mahal ketika lewat.

Menulis juga ‘dikutuk’ sebagai aktivitas intelektual tertinggi. Ini mendorong orang untuk memiliki kemampuan bertahan yang tinggi dan energi yang kuat untuk menjadi penulis yang berkomitmen. Dibandingkan dengan kegiatan intelektual lainnya—membaca dan diskusi—menulis adalah yang paling sulit. Membaca membuat kita paham, diskusi membuat kita lebih dalam memahami apa yang dibaca dan menulis mempertajam apa yang kita baca dan diskusikan. Banyak membaca tapi tidak menulis sama seperti gudang, menyimpan barang berharga tapi tidak digunakan oleh orang lain. Sebaliknya, menulis setelah membaca intensif dan diskusi aktif hampir sama dengan pabrik, menghasilkan barang bagi konsumen, dalam hal ini adalah pembaca.

Mewakili aktivitas intelektual yang paling sulit, menulis bukanlah persoalan gampang. Tulisan yang bagus akan berkontribusi terhadap literasi yang lebih baik. Pada bulan Maret 2016 lalu, sebuah studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCTU) berjudul "Most Literate Nation of the World" menempatkan Indonesia pada rangking ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi, di atas hanya Botswana, dan di bawah Thailand sebagai anggota ASEAN lainnya .

Survey ini menandaskan bahwa kegiatan menulis memang bukanlah kegiatan yang mudah. Ini terbukti bagaimana media sosial dipenuhi oleh sampah-sampah kata, kalimat dan frasa yang sarat kebohongan, lazim disebut hoax.

Perlu juga dicatat bahwa rendahnya literasi memiliki efek buruk bagi aktivitas menulis buku. Di Indonesia, menulis buku teks bukanlah bisnis yang berujung keuntungan finansial yang besar. Penerbit dan toko buku mendapatkan banyak uang, sementara penulis bahkan jarang impas. Tidak mengherankan jika banyak penulis potensial enggan menulis dan cenderung menyalahkan pihak penerbit karena mengambil persentase penjualan buku yang tidak adil. Sebaliknya, penerbit cenderung menyalahkan budaya membaca masyarakat yang rendah. Ini pada gilirannya menjadi pertanda buruk bagi pemasaran buku.

Di satu sisi, kasus Tere berkaitan dengan keadilan dan royalti bagi penulisnya. Namun, di sisi lain, inilah puncak gunung es lemahnya tradisi intelektual bagi sebagian besar masyarakat kita.

(Diterbitkan di Geotimes, 14 September 2017)

Politik Giring “Nidji” dan Kemudaan



Donny Syofyan

Vokalis band pop Giring ‘Nidji’ Ganesha mencoba peruntungannya di bidang politik. Penyanyi tersebut dilaporkan mendaftarkan diri sebagai calon legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI) beberapa hari lalu. Selama acara pendaftaran, Giring berjanji untuk tidak terlibat dalam korupsi jika terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dalam pemilihan legislatif tahun 2019.

Nidji bukanlah satu-satu kaum muda yang menjatuhkan keputusan memasuki gelanggang politik. Sebelumnya, yang paling terkenal, Agus Harimurti Yudhoyono yang ikut serta sebagai salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Tak pelak, keikutsertaan Agus mengundang kontroversi.

Salah satu pernyataan paling pedas dilontarkan oleh pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti ketika itu yang menyebutnya sebagai “anak ingusan” yang tak tahu apa-apa. Secara intelektual, ucapan ini bukan saja dinilai kebablasan tapi juga menampakkan bahwa sebagai pengamat ternyata Ikrar bukan lagi intelektual kritis yang ditandai oleh kemampuan memutakhirkan wawasan.

Nidji dan Agus bukanlah segelintir prototip anak muda yang punya potensi dahsyat untuk menciptakan dunia baru. Di Indonesia, tak terhitung lagi tokoh-tokoh muda yang menempati pelbagai posisi top. Yuliandre Darwis (36 tahun) sebagai Ketua Komisi Penyiaran Indonesia/KPI 2016-2019, Firmanzah sebagai Dekan FE UI di usia 33 tahun, juga Ustadz Firanda Andirdja (36 tahun), pengajar tetap di Masjid Nabawi yang baru-baru ini meraih Ph.D di Arab Saudi.

Juga jangan lupakan Nara Masista Rakhmatia (34 tahun),  diplomat junior asal Indonesia yang sempat membungkam 6 kepala negara yang mencampuri urusan Papua dan Papua Barat dalam Sidang Umum PBB belum lama ini. Mereka hanyalah sedikit kafilah panjang figur-figur muda yang menorehkan prestasi di atas rata-rata senior mereka.

Terjunnya anak muda berpolitik praktis sebetulnya menggaungkan pesan kuat kepada masyarakat pemilih bahwa “kemudaan” secara serius menjanjikan kekuatan utama dalam kontestasi kepemimpinan. Tanpa terjebak dengan kecenderungan mendewakan segala yang serba muda, kemudaan ini menawarkan tiga kekuatan utama bagi khalayak pemilih dalam pelbagai pilkada yang menjelang.

Pertama, transformasi. Anak-anak muda memang dalam banyak hal miskin pengalaman, tapi mereka pada umumnya tidak menyukai hal-hal biasa atau kelaziman yang berbasis mainstream. Karenanya, anak-anak muda punya obsesi untuk melakukan perubahan; mengubah peluang menjadi pekerjaan, kemungkinan menjadi kepastian, dan mimpi menjadi kenyataan. Daya transformatif ini berakar dari mentalitas penanggung risiko (risk taker) karena anak-anak muda biasanya tidak takut kehilangan (nothing to lose) demi sebuah eksperimentasi.

Kerja-kerja besar untuk menjadikan Jakarta ramah birokrasi dan tatakelola pemerintahan tidak bisa lagi diamanahkan kepada pihak-pihak yang mengklaim diri sudah makan garam namun terbukti gamang mengubah diri. Kesuksesan Wali Kota Holyoke (AS), Alex Morse (26 tahun), mengubah kotanya yang dililiti tiga masalah pelik—kemiskinan, kejahatan dan tingginya angka putus sekolah—terletak pada kecepatannya bertindak dan kemampuannya meletakkan landasan pembangunan kota 10 atau 20 tahun ke depan, bukan menghabiskan diri berinteraksi dengan “pejabat-pejabat berpengalaman.”

Meski dengan kondisi demografi yang berbeda, kisah Alex Morse menjadi inspirasi bahwa kemudaan dan keberanian adalah dua sisi mata uang guna mewujudkan transformasi birokrasi di Tanah Air.

Kedua, inovasi. Kompleksitas persoalan pemeritahan daerah sebetulnya menghajatkan satu kebutuhan utama: layanan prima. Pemimpin muda biasanya melekat dengan dua perbendaharaan penting: teknologi dan inovasi. Layanan yang berbasiskan teknologi dan inovasi dalam banyak hal mampu mengatasi kendala ruang dan waktu. Dengan kecenderungan yang hari ini “serba aplikasi”, pemimpin yang lahir dari rahim anak muda lebih menjanjikan untuk berinovasi.


Inovasi tak pernah subur di lingkungan nir-kompetisi. Mereka yang terbiasa di zona aman atau takut berimprovisasi lantaran takut salah tidak akan berani mencoba sesuatu yang baru. Terus terang, para pemimpin muda diberkahi surplus modal melakukan inovasi. Ini bukan saja lantaran mereka lebih melek dengan ranah IT tapi juga dikarenakan jiwa eksplorasi mereka yang kental.

Bukan bermaksud menafikan potensi yang sama pada para pemimpin senior, kebiasaan banyak pertimbangan di kalangan tokoh-tokoh tua acapkali memperlambat langkah mereka berduet dengan inovasi. Rendahnya penyerapan anggaran di banyak daerah menjadi salah satu contoh umum bagaimana inovasi ternyata masih dianggap ‘alien’ sehingga mementalkan reformasi birokrasi.

Ketiga, ekspresivisme. Banyak yang menganggap anak muda suka cuek dan kurang menaruh hormat kepada orang tua. Ini merupakan kritik konstruktif. Hanya saja, anak-anak muda yang aktivis adalah pengecualian. Kalangan aktivis muda, yang banyak bermetamorfosis sebagai pemimpin muda, malah menjadi mediator, tumpuan harapan dan tempat bertanya oleh rakyat jelata. Kedudukan istimewa ini terbuhul dengan kemampuan ekspresif mereka: diperlakukan sebagai anak di satu sisi sehingga menjadi curahan hati dan dianggap selaku pemimpin tanpa harus dicurigai.

Posisi ini menjadikan pemimpin muda memiliki pesona legitimasi yang lebih murni. Sebagai anak, ia menjadi ladang di mana harapan orang tua disemai. Sebagai pemimpin, ia menjadi sosok yang lebih banyak mendengar supaya lebih kuasa berbuat. Pemimpin senior memang berpengalaman bertahun-tahun, sayangnya tak jarang yang terjadi sebetulnya pengalaman setahun yang diulang berkali-kali.
Anak muda memang belum banyak berkubang dengan masa lalu, tapi mereka dianugerahi kecepatan berlari untuk mewujudkan mimpi hari ini sepanjang diberi kepercayaan. Mustahil kita mengetahui Nara Masista Rakhmatia sekarang tanpa kepercayaan para diplomat senior yang memberikan kesempatan padanya tampil di muka.

Kepercayaan dan momentum berjalan seiring langkah.

(Dimuat di Geotimes, 10 September 2017)

Kritik Sastra di Era Pasca Kebenaran

Kritik Sastra di Era Pasca Kebenaran
Donny Syofyan

Pendahuluan

Menurut kamus Oxford, pasca kebenaran (post-truth) merujuk kepada atau berhubungan dengan keadaan di mana fakta obyektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan kepercayaan personal dan emosi (2017). Kamus Cambridge juga mendefinisikan pasca kebenaran terkait dengan situasi ketika orang memiliki kemungkinan untuk menerima argumen berdasarkan kepercayaan sendiri dan emosi, dan bukan berdasarkan fakta (2017). Era pasca kebenaran menyiratkan kaburnya batasan antara kebohongan dan kebenaran, keculasan dan kejujuran, nonfiksi dan fiksi. Menipu orang lain menjadi permainan, tantangan, dan akhirnya menjadi kebiasaan. Mencermati drama politik hari ini, era pasca kebenaran dapat memicu kampanye berlandaskan argumen emosional, bukan telaah faktual.
Coughlan menilai bahwa pasca kebenaran dianggap merusak keseluruhan dasar demokrasi dan integritas intelektual. Ia mencatat bahwa unsur kunci dalam budaya pasca kebenaran ditandai oleh meningkatnya penggunaan media sosial. Di era pasca kebenaran, pendapat individu lebih bernilai dari fakta dan perasaan menjadi amat penting. Keadaan yang mengerikan ini ditopang oleh kenyataan bahwa siapapun dapat mempublikasikan pendapatnya. Sementara pertentangan pendapat dianggap sebagai serangan terhadap pemilik ide, bukan terhadap ide yang dipublikasikan. Berita palsu (fake news) di berbagai media sosial makin meluas dan bercampur aduk dengan budaya online di kalangan masyarakat pengguna yang tidak bisa membedakan antara fiksi dan fakta (2017).
Sejak zaman kuno, pembaca mengkritisi dan memperdebatkan sastra dari perspektif yang berbeda. Beberapa memandang kisah dan lakon dari aspek moral untuk memahami bagaimana teks tersebut mewakili nilai. Ada kritikus yang membaca sastra, semisal  puisi, dengan melihat bentuknya. Namun, para kritikus baru-baru ini mengamati sastra untuk mencermati kehidupan masyarakat, hubungan kekuasaan dan politik, peran seksualitas atau gender di era pasca kebenaran (Gavilan, 2017).
  Tulisan ini membahas kritik sastra di era pasca kebenaran dengan beberapa perspektif atau wawasan baru yang bisa ditawarkan. Seraya berupaya menemukan apa dan bagaimana perspektif atau wawasan baru tersebut, tulisan ini terlebih dahulu mengkaji pendekatan kritis yang sudah ada terhadap sastra sebagai dasar untuk mengetahui perspektif baru itu.
Pendekatan Formalisme
Pendekatan formalisme menganggap sastra sebagai bentuk pengetahuan manusia unik yang mensyaratkan pengujianan terhadap dirinya sendiri (Olemiss, 2017). Semua unsur yang diperlukan untuk memahami sebuah fiksi dibatasi oleh karya itu sendiri. Kritikus formalisme lebih melihat unsur-unsur bentuk berupa citra, nada, struktur, atau gaya yang ditemukan dalam teks. Selain itu, tujuan utama kaum formalis ini adalah untuk menentukan cara-cara atau pola-pola tertentu yang pada gilirannya bekerja denga isi teks dalam membentuk pengaruhnya bagi pembaca.
Pendekatan Biografi
Pendekatan ini dimulai dengan pikiran sederhana namun sangat krusial bahwa karya sastra dihasilkan oleh penulis yang benar-benar ada alias faktual. Dengan demikian, memahami kehidupan seorang penulis dapat membantu pembaca untuk benar memahami karya penulis. Dalam banyak kasus, metode ini menyediakan metode yang lebih praktis bagi pembaca agar lebih paham dengan teks (Olemiss, 2017). Namun, Olemiss menyarankan pendekatan biografi untuk tidak terlalu  menafsirkan atau menggunakan fakta biografi seorang penulis ketika melakukan kritik karya penulis. Pendekatan ini seharusnya menaruh perhatian untuk menjelaskan karya sastra lewat wawasan yang ada tentang kehidupan penulis. Informasi biografi harus memperkuat makna teks dan tidak menghasilkan hal-hal yang tidak relevan.
Pendekatan Sejarah
Pendekatan sejarah berupaya memahami karya sastra dengan mempelajari konteks intelektual, budaya, dan sosial yang memproduksinya. Selain itu, konteks ini tentu mencakup biografi dan lingkungan penulis. Tujuan utama kritikus sejarah adalah untuk memahami efek karya sastra pada pembaca aslinya.
Pendekatan Gender
Menurut Olemiss, pendekatan gender meneliti pengaruh identitas seksual terhadap penciptaan dan penerimaan sebuah karya sastra. Pendekatan ini pada awalnya merupakan cabang gerakan feminis, namun saat ini sudah mencakup banyak pendekatan, termasuk pendekatan maskulin yang baru-baru ini dikemukakan oleh penyair Robert Bly. Namun, sebagian besar pendekatan gender mengambil persepsi utama bahwa sikap kaum patriarki telah mendominasi pemikiran Barat, tak ketinggalan kaum feminis sendiri. Sadar atau tidak, ini berdampak terciptanya karya sastra yang dipenuhi asumsi tidak teruji bahwa ia adalah ‘buatan laki-laki.’ Olemiss lebih jauh menguraikan bahwa kritik feminis mencoba memperbaiki ketidakseimbangan ini dengan mengatasi dan menganalisis sikap demikian lewat sikap terus bertanya. Tujuan lain dari kritikus feminis mencakup analisis tentang bagaimana identitas seksual berpengaruh pada pembaca teks. Demikian pula, ia meneliti bagaimana gambaran wanita dan pria dalam fiksi menolak atau mencerminkan kekuatan sosial yang secara historis mencegah peran seksual untuk mencapai kesetaraan total.
Pendekatan Psikologis
Pendekatan psikologis merefleksikan dampak psikologi modern terhadap kritik sastra dan sastra sendiri (Olemiss, 2017). Menyinggung bidang ini, kita perlu menyebutkan tokoh-tokoh utama, seperti Sigmund Freud dan Carl Jung. Olemiss menunjukkan bahwa teori psikoanalitik mengubah konsep perilaku manusia dengan menjelajahi daerah kontroversial dan baru, seperti seksualitas, pemenuhan keinginan, represi dan ketidaksadaran, di samping memperluas pemahaman tentang bagaimana simbol dan bahasa beroperasi dengan menunjukkan kemampuannya dalam mencerminkan keinginan bawah sadar dan ketakutan. Teori yang diajukan oleh Carl Jung tentang alam bawah sadar juga membentuk fondasi utama kritik psikologis. Menurut Olemiss, kritik psikologis menggunakan banyak pendekatan, namun, dalam banyak kasus menggunakan satu atau lebih dari tiga pendekatan di bawah ini:
1.                             Studi psikologis seorang pengarang/seniman. Ini lazimnya menyorot bagaimana keadaan biografis seorang pengarang/seniman mempengaruhi atau mempengaruhi perilaku dan motivasinya.
2.                             Studi proses kreatif pengarang/seniman: apa dan bagaimana karakteristik sang jenius sastra dan bagaimana kaitannya dengan fungsi mental normal?
3.                             Analisis karakter fiktif dengan menggunakan metode dan bahasa psikologi.
Pendekatan Sosiologis
Pendekatan sastra ini mengkaji sastra dalam konteks politik, ekonomi, dan budaya di mana karya tersebut diterima atau ditulis. Ia juga mengeksplorasi hubungan antara masyarakat dan seniman (Olemiss, 2017). Terkadang, pendekatan sosiologis mengkaji masyarakat pengarang guna lebih memahami karya sastra yang ditulisnya. Di lain waktu, ini bisa dilakukaan dengan melakukan telaah terhadap representasi unsur-unsur tersebut dalam masyarakat di dalam sastra itu sendiri. Olemiss menyoroti salah satu jenis kritik sosiologis yang berpengaruh adalah kritik Marxis, yang sebagian besar berfokus pada unsur-unsur politik dan ekonomi dengan menekankan aspek isi ideologis sastra. Mengingat bahwa kritik Marxis dalam banyak hal kebanyakan kasus meyakini bahwa semua seni atau sastra bersifat politis—baik mendukung, (dalam diam) atau menantang status quo—seringkali bersifat menghakimi dan cenderung evaluatif, sebuah kecenderungan yang dapat menghasilkan keputusan reduktif. Kritik Marxis, bagaimanapun, dapat menerangi dimensi ekonomi-politik dari sastra yang cenderung diabaikan oleh kritik sastra lainnya (2017).
Pendekatan Mitologis
Menurut Olemiss, pendekatan ini lebih menekankan pada pola universal berulang yang mendasari sebagian besar karya sastra. Kritik mitologis—bersamaan dengan wawasan psikologi, antropologi, perbandingan agama, dan sejarah—mengeksplorasi kesamaan persoalan kemanusiaan yang dihadapi pengarang dengan menelusuri bagaimana imajinasi individu menggunakan simbol dan mitos yang sama pada zaman dan budaya yang berbeda. Dalam kritik mitologis, satu konsep kunci adalah arketip, yaitu citra, situasi, karakter, atau simbol yang memberi respons universal yang dalam yang digagas oleh Carl Jung. Jung menunjukkan bahwa semua orang berbagi dan memiliki kesamaan "ketidaksadaran kolektif," yang merupakan seperangkat kenangan primal yang umum bagi umat manusia. Ia ada di bawah pikiran sadar setiap orang.
Kumpulan ingatan primal ini sering berasal dari fenomena primordial— bulan, matahari, malam, darah dan api, pola dasar yang memicu ketidaksadaran kolektif menurut Jung. Northrop Frye, seorang kritikus lain, menyederhanakan definisi arketip itu dengan menganggapnya sebagai simbol. Dalam banyak hal, ia adalah gambar yang seringkali berulang secara mengejutkan dalam karya sastra hingga dapat dikenali sebagai pengalaman kesusastraan seorang individu pengarang secara keseluruhan. Terlepas dari definisi pola dasar yang digunakan, kritik mitologis, menurut Olemiss, cenderung melihat karya sastra secara luas dalam konteks karya yang memiliki pola serupa (2017).
Pendekatan Respon Pembaca
Pendekatan ini mengambil prinsip penting bahwa sastra tidak hanya hadir sebagai artefak di atas halaman cetak, tapi juga sebagai transaksi antara pikiran pembaca dan teks fisik (Olemiss, 2017). Pendekatan ini bertujuan untuk menawarkan gambaran tentang apa yang terjadi di benak pembaca saat menafsirkan teks, dan membuat refleksi bahwa membaca, seperti menulis, adalah proses kreatif. Olemiss mengungkapkan bahwa kritikus respon pembaca menganggap bahwa teks sastra tidak memiliki atau mengandung makna sebab ia hanya terbit dari aktivitas membaca seseorang. Dua pembaca yang berbeda dari teks sastra yang sama dapat muncul dengan interpretasi yang sama sekali berbeda. Demikian pula, pembaca yang membaca ulang teks yang sama akan menemukan makna yang berbeda beberapa waktu kemudian. Fokus respon pembaca adalah bagaimana nilai sosial, budaya, dan agama mempengaruhi pembacaan. Pendekatan ini juga tumpang tindih dengan kritik gender dalam melakukan eksplorasi tentang bagaimana perempuan dan laki-laki membaca teks sastra yang sama dengan asumsi yang berbeda. Terlepas dari kenyataan bahwa kritik respon pembaca menolak adanya satu pembacaan tunggal dan benar dalam sastra, namun pendekatan ini tidak menganggap semua ragam pembacaan dibolehkan. Dengan demikian, masing-masing dan setiap teks menyiratkan batasan pada kemungkinan interpretasinya (Olemiss, 2017).
Pendekatan Dekonstruksi
Menurut Olemiss, pendekatan dekonstruksi menolak anggapan lama bahwa bahasa dapat secara akurat mewakili kenyataan. Kaum dekonstruksionis menganggap bahasa sebagai media yang pada dasarnya tidak stabil. Misalnya, kata "anjing" atau "pohon" bisa menunjukkan gambaran mental yang berbeda untuk orang yang berbeda. Oleh karena itu, mengingat bahwa sastra terdiri dari kata-kata, ia tidak memiliki makna tunggal dan tetap. Menurut Paul de Man, kritikus dekonstruksi bersikeras keniscayaan mustahilnya membuat ungkapan yang sebenarnya memiliki suatu kebetulan dengan apa yang harus diungkapkan, yaitu membuat tanda-tanda aktual seperti kata-kata memiliki sebuah kebetulan dengan apa yang ditandai. Oleh karena itu, kritik dekonstruksi memiliki kecenderungan untuk tidak menekankan apa yang sedang dikatakan, namun bagaimana bahasa itu digunakan dalam teks (2017). Tujuan dekonstruksionis lainnya mencakup (1) menantang gagasan kepemilikan teks yang dibuat oleh penulis, bersamaan dengan kemampuan mereka untuk mengendalikan makna teks mereka, dan (2) memusatkan perhatian pada bagaimana bahasa digunakan untuk mencapai kekuasaan, seperti situasi ketika mencoba memahami bagaimana beberapa interpretasi karya sastra dianggap sebagai "kebenaran".

Perspektif Baru Kritik Sastra di Era Pasca Kebenaran
Di era kebenaran pasca yang ditandai oleh melubernya kebohongan, propaganda, dan berita palsu (fake news), banyak yang mengangkat isu makna dalam sastra. Ini menjadi tugas penafsir untuk menemukan makna dan kebenaran dalam teks sastra. Makna dan kebenaran dapat ditemukan melalui kritik dan analisis sastra. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan mazhab tradisional atau mengadopsi perspektif baru dalam kritik sastra. Bagian tulisan ini akan membahas perspektif dan wawasan baru dalam kritik sastra di era pasca kebenaran. Bagaimana mendapatkan kebenaran dalam teks atau maknanya? Bagaimana mendapatkan makna di era pasca kebenaran? Lalu, bagaimana perspektif baru yang bisa diterapkan oleh kritik sastra dalam mengkaji teks sastra manapun.
Untuk menemukan jawaban ini, berbagai perdebatan dan diskusi merujuk kepada satu hal: apa makna yang terkandung dalam sastra. Dalam mengkaji secara kritis sastra di era pasca kebenaran, terdapat empat pendekatan di kalangan para teoritis, kritikus, dan filsuf untuk mencoba menjawab pertanyaan ini. Pendekatan ini meliputi:
2.      Pendekatan didaktik— kebenaran dan makna diajarkan dalam sastra
3.      Pendekatan partisan—makna yang jujur sudah dapat diketahui dan ditemukan dalam sastra.
4.      Pendekatan religius—makna dan kebenaran adalah sastra itu sendiri, dan dunia luar tidak ada hubungannya dengan pencarian dan kebenaran makna.

Sungguhpun tulisan ini menjabarkan keempat pendekatan ini secara terpisah, namun semunya satu sama lain tidak eksklusif. Dalam hal tertentu, semua pendekatan ini boleh jadi saling tumpang tindih bagi pemikir dan kritikus yang berbeda. Oleh karena itu, tawaran pendekatan ini seyogianya tidak dianggap sebagai bentuk keyakinan ideologis dan kredo tertentu, tapi lebih sebagai prilaku.
)                           
                  Pendekatan Didaktis
Di era pasca kebenaran yang ditandai dengan kebohongan, kebenaran atau makna sebuah teks sastra adalah sebuah pelajaran, dan sang guru adalah penulisnya. Guru diberi tugas untuk mengajar murid-muridnya, yang notabene adalah para pembaca. Penulis buku dianggap sebagai pendidik hebat yang memandu pembaca menjalani kehidupan. Ia adalah intelektual yang tercerahkan dan menjadi panutan bagi masyarakat. Karya sastra dapat mempengaruhi masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih baik. Makna dalam sastra, yang dinilai sebagai kebenaran, bisa diajarkan dengan membaca sastra.
Pendekatan ini menganggap kebenaran sesuatu yang etis, seperti yang juga dipaparkan oleh Kirsch dalam artikelnya di New York Times, "Lie to Me: Fiction in the Post Truth Era." Penulis mengutip seorang aktor dalam acara kuis "Twenty-One", sebuah pertunjukan skandal terkenal pada tahun 1961, Charles Van Doren dan membandingkannya dengan Donald Trump untuk melihat ukuran perubahan selama lima dekade terakhir. Terungkap bahwa Doren menerima jawaban atas pertanyaan di game tersebut dan dipermalukan. Sebagian besar pemirsa televisi yakin bahwa kontes tersebut benar-benar nyata dan tidak dipentaskan. Kirsch juga mengingatkan pembaca pada novel Inggris awal ditulis oleh Clarissa (1748) dan Moll Flanders (1722). Keduanya diterbitkan secara anonim dengan judul yang menunjukkan bahwa keduanya adalah kisah nyata. Namun, ia mengklaim bahwa penulis ini terlibat dalam proyek yang kompleks, di mana garis antara fiksi dan fakta menjadi sulit untuk diidentifikasi. Orang menyukai kebenaran dalam sastra, namun tetap saja memberi label pada buku sebagai fiksi, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kebohongan. Banyak orang menikmati ilusi, sehingga mereka suka dibohongi.

Demi memperoleh pandangan yang lebih fokus tentang kebenaran dalam karya sastra, Kirsch adalah seorang pembela sejati pendekatan didaktik. Berbicara tentang kebenaran dari seorang pengarang dalam karya sastra yang ditulisnya, sejarah menunjukkan bagaimana semua upaya sensor mengadopsi pendekatan serupa saat mengkritik sastra. Untuk kepentingan sensor, sastra diperlakukan sama dengan buku teks; ditinggalkan bila berisi informasi yang salah atau ketinggalan zaman. Oleh karena itu, para penyensor punya tugas untuk melindungi masyarakat dari hal-hal yang dinilai berbahaya, termasuk karya sastra. Nordquist secara apik menyimpulkan prilaku sensor sebagai berikut:
According to the conservatives, the state has a justification in applying its coercive powers in enforcing and upholding the moral convictions of a community and to prevent her citizens from participating in activities that are offensive to the prevailing standards of decency and morality the community. Sometimes, this position is called legal moralism. Moreover, it is the responsibility of the governments to prevent the citizens from inflicting harm to themselves. This is also applicable and true even where the citizen is a mature adult engaging voluntarily in an activity which they presume to be desirable but causes harm to others. The notion that the state has an entitlement of interfering with the freedom of adults who are mentally competent for their own good against their will is often referred to as legal paternalism” (Nordquist 64).

[Menurut kelompok konservatif, negara memiliki justifikasi untuk memaksa demi menegakkan dan menjunjung tinggi keyakinan moral masyarakat dan untuk mencegah warganya berpartisipasi dalam kegiatan yang menyinggung standar kesopanan dan moral masyarakat yang berlaku. Terkadang posisi ini disebut moralisme hukum. Selain itu, pemerintah bertanggung jawab untuk mencegah warganya menyakiti diri sendiri. Sensor menjadi perlu diterapkan atau berlaku bahkan ketika warga negaranya mencakup orang-orang dewasa yang terlibat secara sukarela dalam aktivitas yang mereka inginkan tetapi dianggap merugian orang lain. Gagasan bahwa negara berhak mencampuri kebebasan orang dewasa yang secara mental memiliki kemampuan untuk melawan kehendak mereka sendiri sering disebut sebagai paternalisme hukum "(Nordquist 64)].

Bagian tulisan ini tidak hendak menggugat pandangan demikian. Namun aspek penting yang ingin ditegaskan bahwa sikap umum sensor terhadap seni atau sastra mewakili pendekatan didaktik. Dalam Huckleberry Fin, seorang pembaca akan melewati kata-kata ofensif mungkin karena ia belajar rasisme. Demikian pula, berita palsu dan kebohongan terang Donald Trump harus dihindari, karena dapat mempromosikan intoleransi, kebencian dan kekerasan di era pasca kebenaran. Bentuk pendekatan didaktik lainnya ditunjukkan oleh sastra para propaganda yang ditulis oleh para pendukung ideologi yang berbeda atau bahkan negara.
Namun, bentuk pendekatan didaktik yang tidak popular ini seharusnya tidak menghalangi para kritikus literal untuk menggunakannya dalam kritik sastra, yang sebetulnya juga didukung oleh tradisi yang kaya. Sudut moral pendekatan didaktik sangat tua, seperti halnya kritik sastra. Representasi klasik dari pandangan ini, yang juga dianggap sebagai bapak penggagas gagasan ini, adalah Horace. Ia mengklaim bahwa tujuan puisi adalah untuk mengajar dengan menyenangkan pembaca. Pendapatnya digunakan secara luas dan menjadi sangat dominan dalam  kritik sastra sepanjang abad pertengahan. Hall juga mengutip Horace dengan menyatakan bahwa puisi yang baik bukanlah bentuk yang jahat. Ini adalah sumber pembelajaran dan inspirasi (31). Tren ini berlanjut ke era Renaisans, sebuah zaman dengan ciri-ciri seperti yang ditulis oleh Sidney, "penuh dengan frase bagus dan pidato megah, bergerak naik ke ketinggian gaya Seneca, dan sarat moralitas yang menonjol, yang dengan senang hati mengajarkan hal yang paling banyak, dan dengan demikian mendapatkan akhir yang pahit (which notwithstanding since it is full of well sounding phrases and stately speeches, climbing to the Seneca’s style height, and as full of notable morality, that it delightfully teaches doth most, and so obtaining the poesy very end) [75]
Pandangan ini sebagian besar terbukti saat mempelajari kritik klasik. Sejak zaman Estetika pengaruh pendekatan didaktik telah melemah, ketinggalan zaman, dan mulai terlupakan. Namun, di luar batas kaum akademiss, tidak ada pendekatan lain yang dominan atau populer. Di era pasca kebenaran ini, hack writing (menulis terburu-buru karena dikejar deadline sehingga memiliki kualitas yang rendah) dan penyensoran oleh pemerintah masih meluas, mulai dari pelarangan buku/video/film sampai pembatasan umur (age rating). Kehadiran karya-karya fiksi yang ditulis untuk orang dewasa dan anak-anak, seiring dengan cara sekolah dan orang tua memperlakukan sastra, menunjukkan bahwa pendekatan didaktik masih digunakan. Demikian pula sebagian besar mazhab kritik sastra masih mengikuti pendekatan didaktik. Queer criticism, kritik pasca kolonialisme, African-America criticism, feminisme dan Marxisme semuanya menegaskan bahwa pembaca dapat mempelajari berbagai nilai dari teks sastra yang mereka baca.
     Pendekatan Reflektif
Hemat pendekatan ini, terdapat kebenaran di luar alam sajak dan kata-kata dalam sastra. Sastra adalah cermin yang memantulkan kebenaran. Pendekatan reflektif menyiratkan bahwa sastra dapat digunakan untuk menjelaskan kebenaran tentang sesuatu yang tidak ada dalam sastra. Memang ada perbedaan antara pendekatan didaktik dan pendekatan reflektif dalam kritik sastra. Pendekatan reflektif menganggap penulis sebagai pengamat, sementara pendekatan didaktik menganggap penulis sebagai guru. Selain itu, dalam pendekatan reflektif, teks sastra adalah jendela yang membuka alam yang tak terlihat dan bukan pelajaran.
Prototipe tertua pendekatan reflektif adalah teori mimesis, yang menyatakan bahwa sastra adalah tiruan hidup. Dengan kata lain, sastra adalah tiruan kebenaran dan dengan mengkajinya seseorang bisa belajar sesuatu tentang sumbernya. Beberapa penulis dan buku terkenal di era pasca kebenaran yang meyakini bahwa sastra adalah tiruan hidup dan kebenaran meliputi di antaranya: ‘Post-Truth: Why We Have Reached Peak Bullshit and What We Can Do About It’ oleh Evan Davis; ‘Post-Truth: How Bullshit Conquered the World’ oleh James Ball, and ‘Post Truth: The New War on Truth and How to Fight Back’ oleh Matthew d’Ancona. Di era pasca kebenaran, Donald Trump memerankan diri sebagai orang tepat yang melakukan ‘drain the swamp’, sebuah istilah yang diulang-ulang oleh Trump untuk mengatasi isu-isu federal di Amerika Serikat di satu sisi sekaligus kritikannya terhadap kaum politisi mapan di Washington di sisi lainnya. Namun, sejumlah penulis diatas melihat Trump sebagai makhluk dari rawa yang buruk, bangkit dari kotoran yang sangat beracun ke dunia beradab untuk meluluhkannya dengan keculasan (Jeffries, 2017). Masing-masing penulis bahkan menunjukkan bahwa Donald Trump lebih buruk daripada pembohong.
Dalam bukunya, 'Post-Truth: Why We Have Reached Peak Bullshit and What We Can Do About It’ (2017), Davis mencerminkan kebenaran di luar dunia yang berada di luar kata-kata sastra. Ia berpendapat bahwa masyarakat Barat sudah menjadi seperti Uni Soviet, dicirikan oleh orang-orang yang memiliki kecenderungan meluasnya otoritas dalam melebih-lebihkan problem mereka. Sejauh ini, pihak-pihak berwenang, baik penguasa maupun pemilik modal, terus saja membombardir warganya dengan pesan-pesan yang tidak berkelindan dengan kenyataan. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa bagian yang memalukan diwakili oleh para komunikator. Selain itu, Davis menegaskan bahwa semakin banyak orang berupaya memecahkan masalah ini, semakin masalah ini meluas. Demikian pula, semakin banyak orang mengabaikan fakta, semakin banyak kebohongan yang akan dikerahkan—kebenaran dan kenyataan di luar sana, di luar sastra.
Sementara itu, D'Ancona dalam bukunya, "Post Truth: The New War on Truth and How to Fight Back (2017)," mengakui bahwa era pasca kebenaran sudah hadir sebelum kemunculan Trump. Ia menjelaskan bahwa di era pasca kebenaran ini, orang hidup di dunia yang tidak memiliki realitas stabil yang dapat diverifikasi, sebab ia merupakan pertempuran tanpa akhir untuk mendefinisikannya. Ini adalah cerminan dari kebenaran di luar karya sastra. Nigel Farage, pemimpin Ukip, pada tanggal 16 Juni 2016 pernah menampilkan sebuah poster yang menggambarkan antrian panjang pengungsi Suriah dengan tajuk utama, "Breaking Point." Sidiran tersebut hendak menekankan bahwa para pengungsi yang datang ke Inggris adalah sekelompok pekerja tukang bonceng (freeloader), yang mencabut hak-hak orang-orang pribumi menyangkut perawatan kesehatan, perumahan, dan pendidikan. Namun, pernyataan sarkastis ini ditolak oleh Neli Demireva, dosen sosiologi di Essex University. Neli berpendapat bahwa para migran berkontribusi secara substansial bagi ekonomi, karena mereka rata-rata terampil dan tidak bersaing dengan orang pribumi Inggris untuk mendapatkan perumahan sosial (Jeffries, 2017).
Berikutnya, Ball dalam bukunya, "Post-Truth: How Bullshit Conquered the World" (2017), menulis bagaimana kebenaran di dunia tidak ditemukan dalam sastra. Ia menjelaskan bahwa media-media konvensional mulai mengalami penurunan pendapatan iklan. Hal ini mengakibatkan berkurangnya jumlah wartawan, sebuah upaya perewujudan ekologi jurnalistik sedangkan untuk tujuan efektivitas biaya. Wartawan tidak lagi dituntut menggali laporan yang hendak mereka sajikan. Apalagi, situs-situs berita palsu memiliki keuntungan ekonomi secara luar biasa dengan memutar cerita yang berlebihan atau tidak terkendali untuk mengurangi biaya produksi. Dampak akhir dari ekologi jurnalistik, menurut Ball, adalah bahwa publik tidak lagi memberi bobot tinggi pada berita-berita di New York Times atau BBC dan beralih kepada status-status di Facebook, Tweeter, atau American Patriot Daily.
Anggapan bahwa pendekatan reflektif terhadap kritik sastra salah tidak dapat lagi diterima. Sastra ditulis oleh penulis, dibaca oleh masyakat, dan pada saat yang sama terkait erat dengan isu-isu real kemanusiaan .

           Pendekatan Religius
Menurut pendekatan ini, sastra sama sekali tidak memiliki hubungan dengan kebenaran. Sastra memiliki makna, kebenaran, atau tanpa kebenaran. Dalam pendekatan ini, sastra dianggap tidak berguna, menjadi entitas yang terpisah sehingga  tidak dapat digunakan untuk mempelajari atau memahami kebenaran di dunia luar. Sastra merupakan dunia yang terbatas, stimulator kesenangan dan keindahan. Pendekatan ini menganggap sastra sebagai fantasi atau fiksi, jauh dari kenyataan dunia. Oleh karena itu, tidak perlu membandingkan antara sastra dan filsafat atau bahkan sejarah, karena filsafat dan sejarah berhubungan dengan dunia nyata. Adapun sastra mengungkap dunia mayanya sendiri.
Ada yang mungkin bertanya mengapa pendekatan kritik sastra ini disebut religius. Pendekatan ini mengurangi atau mengangkat sastra ke entitas yang sebetulnya ilahi semu (pseudo divine). Ini merujuk kepada entitas yang saleh dan memiliki tujuan dan aturan sendiri, di luar kebutuhan manusia normal yang hanyalah makhluk biasa. Karenanya, ia bersifat terpisah. Pendekatan ini sangat banyak diterapkan dalam mengkritik sastra di era pasca kebenaran. Di era ini, informasi bergerak lebih cepat di media sosial tanpa dukungan fakta yang sahih. Berita palsu ada di mana-mana dan jauh dari kenyataan. Dunia maya memiliki aturan tersendiri yang tunduk dengan keindahan dan estetika.
Berbicara tentang aturan dan keindahan dalam teks sastra guna memberikan kenikmatan estetika bagi pembaca, kita perlu menyebut sebuah buku penting, "The Man in the High Castle" oleh Philip K Dick. Buku ini menggambarkan keadaan fiktif dalam sejarah Amerika, di mana Sekutu dan Amerika Serikat mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II dan diduduki oleh kekuatan asing. Pantai barat berada di bawah kendali Jepang, sedangkan pesisir timur dikontrol oleh Jerman. Wilayah selatan dipimpin rezim ala Vichy yang dikendalikan langsung oleh Nazi. Wilayah pegunungan Rocky dan Midwest merupakan daerah merdeka semu (quasi-independent) dan bertindak sebagai zona penyangga yang memisahkan dua kekuatan yang menguasai Amerika Serikat. Tak kalah mengerikan, ketegangan laten antara Jepang dan Jerman dan ancaman konflik nuklir selalu menghantui (Dick, 2017). Cerita ini menyuguhkan pembaca dengan kenyataan yang kabur. Pembaca dapat merasakan seolah penulis mengalaminya secara langsung, apalagi novel ini tampak seperti sebuah visi atau mimpi. Menjelang akhir cerita, pembaca akan bertemu dengan siapa yang disebut sebagai "Man in the High Castle." Kecurigaan bertemu dengan pemimpi sejati, yaitu Dick sendiri, sulit dihindari. Unsur menarik lainnya bagi pembaca dalam novel ini mencakup suasana negara dalam realitas alternatif tersebut. Kondisi suram dan gaya kepenulisan Dick menciptakan karakter yang luar biasa dan aneh dalam seting novel.
Upaya untuk menolak pendekatan religius dalam kritik sastra di era pasca kebenaran amat mustahil. Ketika pembaca mengomel tentang kekerasan yang ditemukan dalam novel, perlu dicatat bahwa ranah sastra tidak paralel dengan dunia nyata. Dunia nyata memiliki aturan yang berbeda dengan aturan sastra. Wajar bila kemudian kisah Goblin dan Naga dimungkinkan dalam sastra. Berdasarkan premis pendekatan religius bahwa sastra tidak dapat digunakan dalam mempelajari kebenaran, pembaca boleh jadi bertanya apakah teks sastra memang tidak berguna. Mengapa pemerintah menggelontorkan uang yang berasal dari pembayar pajak untuk mendanai universitas dan perpustakaan untuk mempelajari sastra? Kenapa sastra perlu dihargai? Setiap kritikus sastra yang menggunakan pendekatan religius akan gagal memenuhi tantangan ini. Hanya saja itu adalah kegagalan sang kritikus, bukan pada sisi sastra.

Pendekatan Partisan
Dalam pendekatan ini, seseorang dengan kepentingan atau pikiran tertentu melakukan kritik sastra. Di sini, seorang kritikus mengadopsi kebenaran tertentu dan mencoba menafsirkan karya sastra sebagai penegasan dari kebenaran yang diyakininya. Pendekatan partisan tidak berusaha mencari makna atau kebenaran dalam teks, tapi untuk menegaskannya. Ia tidak melakukan pengkajian, namun memadukan dan memanipulasi karya sastra agar sesuai dengan keinginannya. Pendekatan partisan lazim diterapkan saat kritikus benar-benar mengetahui apa yang berada dalam sebuah karya sastra. Karenanya, pendekatan ini berpotensi mengandung kesalahan karena lebih mengutamakan pendapat pribadi dibandingkan fakta empiris yang ada dalam karya sastra. Memang bukanlah kekeliruan ketika seseorang membangun argumennya berdasarkan teori di dalam pikirannya. Hanya saja seorang kritikus harus terbuka untuk mengubah teori atau menerima pengecualian ketika berhadapan dengan bukti yang berlawanan. Namun, ketika seseorang kritikus mengabaikan atau memanipulasi bukti demi membela teori tertentu, kata-kata dan teori kritikus tersebut bakal kehilangan makna dan manfaatnya.
Setiap kritikus sastra yang mengikuti pendekatan partisan dengan cepat akan membawa Marxisme sebagai contoh. Jauh sebelum beralih ke sastra, kebanyakan kaum Marxis pasti mengenal basis dan suprastruktur dan memutuskan untuk menemukan perang kelas dan ekonomi dalam segala hal. Di era pasca kebenara, pendekatan partisan terlihat pada sebagian besar teks sastra era ini. Dengan menganalisis secara kritis karya Davis dan D'Ancona, pembaca dengan cepat bisa melihat pendekatan partisan yang digunakan dengan menyajikan keadaan masyarakat di bidang politik dan kekuasaan. Menurut D'Ancona, karakteristik dominan dalam dunia baru era pasca kebenaran ini adalah keroposnya nilai-nilai kebenaran. Kebohongan, perputaran, dan kepalsuan politik tidak sama persis dengan pasca kebenaran. Masyarakat menganggap berbohong sebagai norma, bahkan di negara-negara demokrasi sekalipun. Lebih jauh selanjutnya mengklaim bahwa era pasca kebenaran dimulai dengan perang Irak. Ini digambarkan sebagai latihan penyangkalan dan disinformasi luar biasa yang berupaya meyakinkan masyarakat bahwa dalam politik, norma-norma tersebut berlaku atas kebenaran. Dalam kasus Inggris, ketidakpercayaan terhadap pemerintah tidak difasilitasi oleh penyalahgunaan intelijen dan berkas cerdik menjelang perang, namun oleh penolakan arsitek perang untuk mengakui bencana yang terjadi setelah perang tersebut.
Terlepas dari teks sastra era pasca kebenaran, pendekatan partisan juga banyak digunakan di dunia akademis dalam lingkaran diskusi dan argumen. Tapi apakah kritikus feminis lebih baik? Mereka juga berupaya menelaah isu dan peran gender dan dalam setiap karya sastra, terlepas dari penting atau tidaknya suatu topik dalam puisi atau novel tertentu. Pendekatan partisan yang mereka gunakan dalam kritik sastra bertujuan untuk memastikan eksistensi isu-isu perempuan dalam sastra. Namun, bagaimana isu-isu tertentu dinilai tidak layak dalam sastra. Di kebanyakan perguruan tinggi, pendekatan partisan sudah diterima akhir-akhir ini. Ketika para ilmuwan mengajukan teori tertentu pada karya yang mereka teliti, mereka sebetulnya mendekati teks sastra dengan pikiran yang bias. Keadaan saat ini dalam ranah akademik menyiratkan seolah berlakunya penumpukan warna tertentu pada setiap objek, lalu dengan gembira mengklaim bahwa setiap objek memiliki warna yang sama.

Referensi
Ball, James. Post-truth: How Bullshit Conquered The World. London: Biteback Publishing, 2017
Coughlan, Sean. “What does post-truth mean for a philosopher?” 21 August 2017<http://www.bbc.com/news/education-38557838>
D'Ancona, Mathew. Post Truth: The New War on Truth and How to Fight Back. London. Ebury Press. 2017
Davis, Evan. Post-Truth: Why We Have Reached Peak Bullshit and What We Can Do About It. London.  Brown Little. 2017
Dick, Phillip. Man in the High Castle. Camberwell. Pinguin Books Australia. 2001
Oxford Dictionaries. “Post-truth - definition of post-truth in English.” 21 August 2017<https://en.oxforddictionaries.com/definition/post-truth>
Cambridge Dictionary. “Post-truth meaning in the Cambridge English Dictionary.” 21 August 2017<http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/post-truth>
Gavilan. “LitCrit.” 26 August 2017<http://hhh.gavilan.edu/kwarren/LitCrit.html>
Gioia, Ted. “The Man in the High Castle by Philip K. Dick.” 26 August 2017<http://www.conceptualfiction.com/the_man_in_the_high_castle.html>
Hall, Vernon. A Short History of Literary Criticism. United States. Palala Press. 2016
Jeffries, Stuart. “Bullshit is a greater enemy than lies—​lesson from three new books on the post-truth era.” 26 August 2017<https://www.theguardian.com/us-news/2017/may/22/post-truth-era-trump-brexit-lies-books>
Keyes, Ralph. “The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life” 25 August 2017<http://www.ralphkeyes.com/the-post-truth-era>
Kirsch, Adam. “Lie to Me: Fiction in the Post-Truth Era.” 25 August 2017<https://www.nytimes.com/2017/01/15/books/lie-to-me-fiction-in-the-post-truth-era.html?mcubz=3>
Nordquist, Joan. Pornography and censorship. Santa Cruz, CA, USA. Reference and Research Services. 1987.

Olemiss. “Critical Approaches to Literature.” 21 August 2017<http://home.olemiss.edu/~egjbp/spring97/litcrit.html>

Sidney, P. The Defense of Poesy: By Sir Philip Sidney, Kt. Farmington Hills, Mich. Thomson Gale. 2005







Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Sastra dan Seni FIB UGM ke-4 Tahun 2017

Words matter




Is there a link between language and behavior? A lot of research will answer "yes" over their inseparable and reciprocal proximity. Thanks to the development of online lifestyles, such as through the growing use of social media, a language deficit seems to have become inescapable. To a significant degree, this has played a momentous role in the exhibition of anti-social behavior.
By examining Australian primary schools, at the very least from my daughter's experience, I have found that behavioral understanding is very practical and is bolstered by the polite use of language. When it comes to showing respect for their friends and teachers, students are taught to use three important expressions: "please," "thank you" and "sorry."
These words are of paramount significance, not for their semantic meanings, but for the social values they radiate to interlocutors and society. While a semantic understanding simply puts a limit on cognitive attainment, understanding values is efficacious in establishing harmonious relations between people.
The use of "please" when expressing a request places a considerable emphasis on respect. In social interactions, respect is a seed of equality.
When a child employs the word "please" when he or she makes a request or a demand for something from somebody, he or she is trained to understand that there are no superior-inferior hierarchies within social communication and rapport. Though the one who makes a request may be a moneyed aristocrat or millionaire, for instance, the use of the word "please" makes his or her company feel equal and far from being offended.
It often happens that broken or dysfunctional families are not just a matter of meager income, but result from an unhealthy mode of communication among family members.
Parents may believe their children are in frequent opposition to their wishes on account of their sons or daughters' impolite choices of words when they converse. Similarly, children may find their parents unloving due to their command-style mode of communication.
Meanwhile, many companies succeed in increasing the productivity rate of work places when they have managers capable of inspiring employee enthusiasm. Emotionally speaking, the use of the word "please" can help set a sense of fear aside in relationships between managers and employees. Such leaders would be regarded for their inspiring actions instead of their fear-generating attitudes.
Such is the case with the expression "thank you." A child who is used to saying "thank you" in day-to-day interactions will be more attentive, more willing to offer compliments and less likely to complain. My daughter admits she prefers to see the good in people just because she is accustomed to thanking her friends on many occasions. In Islam, it is called husnuzhan.
Many deem that praise is not a necessity and that criticism is a matter of right, particularly in business transactions and service. This is misleading. Complimenting is closely bound with linguistic habituation.
Despite its simplicity, the frequent use of "thank you" suggests one's recognition of the quality, value, significance or magnitude of others. That is why children accustomed to saying "thank you" are far from judgmental and enjoy showing admiration from a young age.
In politics, the message behind "thank you" may draw politicians into seeking a common platform rather than magnifying their differences and pointing out other people's mistakes and shortcomings.
Why? -- as my daughter often asks. Because they will honestly acknowledge that the good they see in other politicians is also in them. They would not be able to see that good if they did not have an inkling of what it was. Indonesia is in dire need of politicians who hold the belief that mutual kindness can energize transformations for people.
Last, but not least, "sorry" is the next expression many Australians, in particular, use in their daily conversations. Saying "sorry" goes above and beyond the desire for forgiveness, it seeks to retain social intimacy and develop a sense of responsibility.
Apologizing to others by saying "sorry" for mistakes made can minimize conflict and misunderstanding. An apology can help those offended or hurt feel comfortable. Saying sorry is a subtle way to seek clarification, allowing people to reconnect, which in turn leads to closer social intimacy.
Also, saying "sorry" is an act of taking responsibility. A person offering an apology is a person of trust. Painful feelings of humiliation or distress caused by the consciousness of wrong or foolish behavior eventually vanish once an apology is made.
Saying "sorry" for an offence or wrongdoing is a gentleperson's calling card. It is one of the most subtle, yet powerful, ways to show your consideration of others people's feelings.
Nothing is as important as being simple. Regardless of their simplicity, these three expressions -- "please," "thank you" and "sorry" -- can help foster genuine engagements and forge strong bonds of humanity.
(Dimuat di harian The Jakarta Post, 4 September 2017)